Asral Enterprise

asral enterprise

Thursday, November 4, 2010

Mufti Makkah Fatwa Gerakan Wahabi Sesat!!

foto SYEIKH AHMAD ZAINI DAHLAN (RA)

SYEIKH AHMAD ZAINI DAHLAN , MUFTI MAKKAH FATWA GERAKAN WAHABI SESAT

jamuman.blogspot.com - Permulaan munculnya Muhammad ibn Abdil Wahhab ini ialah di wilayah timur sekitar tahun 1143 H. Gerakannya yang dikenal dengan nama Wahhabiyyah mulai tersebar di wilayah Nejd dan daerah-daerah sekitarnya. Muhammad ibn Abdil Wahhab meninggal pada tahun 1206 H. Ia banyak menyerukan berbagai ajaran yang ia anggap sebagai berlandaskan al-Qur’an dan Sunnah. Ajarannya tersebut banyak ia ambil atau tepatnya ia hidupkan kembali dari faham-faham Ibn Taimiyah yang sebelumnya telah padam, di antaranya; mengharamkan tawassul dengan Rasulullah, mengharamkan perjalanan untuk ziarah ke makam Rasulullah atau makam lainnya dari para Nabi dan orang-orang saleh untuk tujuan berdoa di sana dengan harapan dikabulkan oleh Allah, mengkafirkan orang yang memanggil dengan “Ya Rasulallah…!”, atau “Ya Muhammad…!”, atau seumpama “Ya Abdul Qadir…! Tolonglah aku…!” kecuali, menurut mereka, bagi yang hidup dan yang ada di hadapan saja, mengatakan bahwa talak terhadap isteri tidak jatuh jika dibatalkan. Menurutnya talak semacam itu hanya digugurkan dengan membayar kaffarah saja, seperti orang yang bersumpah dengan nama Allah, namun ia menyalahinya

Selain menghidupkan kembali faham-faham Ibn Timiyyah, Muhammad ibn Abdil Wahhab juga membuat faham baru, di antaranya; mengharamkan mengenakan hirz (semacam jimat) walaupun di dalamnya hanya terkandung ayat-ayat al-Qur’an atau nama-nama Allah, mengharamkan bacaan keras dalam shalawat kepada Rasulullah setelah mengumandangkan adzan. Kemudian para pengikutnya, yang kenal dengan kaum Wahhabiyyah, mengharamkan perayaan maulid nabi Muhammad. Hal ini berbeda dengan Imam mereka; yaitu Ibn Taimiyah, yang telah membolehkannya.
Syekh as-Sayyid Ahmad Zaini Dahlan, mufti Mekah pada masanya di sekitar masa akhir kesultanan Utsmaniyyah, dalam kitab Târikh yang beliau tulis menyebutkan sebagai berikut:

“Pasal; Fitnah kaum Wahhabiyyah. Dia -Muhammad ibn Abdil Wahhab- pada permulaannya adalah seorang penunut ilmu di wilayah Madinah. Ayahnya adalah salah seorang ahli ilmu, demikian pula saudaranya; Syekh Sulaiman ibn Abdil Wahhab. Ayahnya, yaitu Syekh Abdul Wahhab dan saudaranya Syekh Sulaiman, serta banyak dari guru-gurunya mempunyai firasat bahwa Muhammad ibn Abdil Wahhab ini akan membawa kesesatan. Hal ini karena mereka melihat dari banyak perkataan dan prilaku serta penyelewengan-penyelewengan Muhammad ibn Abdil Wahhab itu sendiri dalam banyak permasalahan agama. Mereka semua mengingatkan banyak orang untuk mewaspadainya dan menghindarinya. Di kemudian hari ternyata Allah menentukan apa yang telah menjadi firasat mereka pada diri Muhammad ibn Abdil Wahhab. Ia telah banyak membawa ajaran sesat hingga menyesatkan orang-orang yang bodoh. Ajaran-ajarannya tersebut banyak yang berseberangan dengan para ulama agama ini. bahkan dengan ajarannya itu ia telah mengkafirkan orang-orang Islam sendiri. Ia mengatakan bahwa ziarah ke makam Rasulullah, tawassul dengannya, atau tawassul dengan para nabi lainnya atau para wali Allah dan orang-orang, serta menziarahi kubur mereka untuk tujuan mencari berkah adalah perbuatan syirik. Menurutnya bahwa memanggil nama Nabi ketika bertawassul adalah perbuatan syirik. Demikian pula memanggil nabi-nabi lainnya, atau memanggil para wali Allah dan orang-orang saleh untuk tujuan tawassul dengan mereka adalah perbuatan syirik. Ia juga meyakini bahwa menyandarkan sesuatu kepada selain Allah, walaupun dengan cara majâzi (metapor) adalah pekerjaan syirik, seperti bila seseorang berkata: “Obat ini memberikan manfa’at kepadaku” atau “Wali Allah si fulan memberikan manfaat apa bila bertawassul dengannya”. Dalam menyebarkan ajarannya ini, Muhammad ibn Abdil Wahhab mengambil beberapa dalil yang sama sekali tidak menguatkannya. Ia banyak memoles ungkapan-ungkapan seruannya dengan kata-kata yang menggiurkan dan muslihat hingga banyak diikuti oleh orang-orang awam. Dalam hal ini Muhammad ibn Abdil Wahhab telah menulis beberapa risalah untuk mengelabui orang-orang awam, hingga banyak dari orang-orang awam tersebut yang kemudian mengkafirkan orang-orang Islam dari para ahli tauhid” (al-Futûhat al-Islâmiyyah, j. 2, h. 66).

Dalam kitab tersebut kemudian Syekh as-Sayyid Ahmad Zaini Dahlan menuliskan:
“Banyak sekali dari guru-guru Muhammad ibn Abdil Wahhab ketika di Madinah mengatakan bahwa dia akan menjadi orang yang sesat, dan akan banyak orang yang akan sesat karenanya. Mereka adalah orang-orang yang di hinakan oleh Allah dan dijauhkan dari rahmat-Nya. Dan kemudian apa yang dikhawatirkan oleh guru-gurunya tersebut menjadi kenyataan. Muhammad ibn Abdil Wahhab sendiri mengaku bahwa ajaran yang ia serukannya ini adalah sebagai pemurnian tauhid dan untuk membebaskan dari syirik. Dalam keyakinannya bahwa sudah sekitar enam ratus tahun ke belakang dari masanya seluruh manusia ini telah jatuh dalam syirik dan kufur. Ia mengaku bahwa dirinya datang untuk memperbaharui agama mereka. Ayat-ayat al-Qur’an yang turun tentang orang-orang musyrik ia berlakukan bagi orang-orang Islam ahli tauhid. Seperti firman Allah: “Dan siapakah yang lebih sesat dari orang yang berdoa kepada selain Allah; ia meminta kepada yang tidak akan pernah mengabulkan baginya hingga hari kiamat, dan mereka yang dipinta itu lalai terhadap orang-orang yang memintanya” (QS. al-Ahqaf: 5), dan firman-Nya: “Dan janganlah engkau berdoa kepada selain Allah terhadap apa yang tidak memberikan manfa’at bagimu dan yang tidak memberikan bahaya bagimu, jika bila engkau melakukan itu maka engkau termasuk orang-orang yang zhalim” (QS. Yunus: 106), juga firman-Nya: ”Dan mereka yang berdoa kepada selain Allah sama sekali tidak mengabulkan suatu apapun bagi mereka” (QS. al-Ra’ad: 1), serta berbagai ayat lainnya. Muhammad ibn Abdil Wahhab mengatakan bahwa siapa yang meminta pertolongan kepada Rasulullah atau para nabi lainnya, atau kepada para wali Allah dan orang-orang saleh, atau memanggil mereka, atau juga meminta syafa’at kepada mereka maka yang melakukan itu semua sama dengan orang-orang musyrik, dan menurutnya masuk dalam pengertian ayat-ayat di atas. Ia juga mengatakan bahwa ziarah ke makam Rasulullah atau para nabi lainnya, atau para wali Allah dan orang-orang saleh untuk tujuan mencari berkah maka sama dengan orang-orang musyrik di atas. Dalam al-Qur’an Allah berfirman tentang perkataan orang-orang musyrik saat mereka menyembah berhala: “Tidaklah kami menyembah mereka -berhala-berhala- kecuali untuk mendekatkan diri kepada Allah” (QS. al-Zumar: 3), menurut Muhammad ibn Abdil Wahhab bahwa orang-orang yang melakukan tawassul sama saja dengan orang-orang musyrik para penyembah berhala yang mengatakan tidaklah kami menyembah berhala-berhala tersebut kecuali untuk mendekatkan diri kepada Allah” (al-Futûhat al-Islâmiyyah, j. 2, h. 67).
Pada halaman selanjutnya Syekh as-Sayyid Ahmad Zaini Dahlan menuliskan:

“Al-Bukhari telah meriwayatkan dari Abdullah ibn Umar dari Rasulullah dalam menggambarkan sifat-sifat orang Khawarij bahwa mereka mengutip ayat-ayat yang turun tentang orang-orang kafir dan memberlakukannya bagi orang-orang mukmin. Dalam Hadits lain dari riwayat Abdullah ibn Umar pula bahwa Rasulullah telah bersabda: “Hal yang paling aku takutkan di antara perkara yang aku khawatirkan atas umatku adalah seseorang yang membuat-buat takwil al-Qur’an, ia meletakan -ayat-ayat al-Qur’an tersebut- bukan pada tempatnya”. Dua riwayat Hadits ini benar-benar telah terjadi pada kelompok Wahhabiyyah ini” (al-Futûhat al-Islâmiyyah, j. 2, h. 68).


Syekh as-Sayyid Ahmad Zaini Dahlan masih dalam buku tersebut menuliskan pula:

“Di antara yang telah menulis karya bantahan kepada Muhammad ibn Abdil Wahhab adalah salah seorang guru terkemukanya sendiri, yaitu Syekh Muhammad ibn Sulaiman al-Kurdi, penulis kitab Hâsyiah Syarh Ibn Hajar Alâ Matn Bâ Fadlal. Di antara tulisan dalam karyanya tersebut Syekh Sulaiman mengatakan: Wahai Ibn Abdil Wahhab, saya menasehatimu untuk menghentikan cacianmu terhadap orang-orag Islam” (al-Futûhat al-Islâmiyyah, j. 2, h. 69).

Masih dalam kitab yang sama Syekh as-Sayyid Ahmad Zaini Dahlan juga menuliskan:
“Mereka (kaum Wahhabiyyah) malarang membacakan shalawat atas Rasulullah setelah dikumandangkan adzan di atas menara-menara. Bahkan disebutkan ada seorang yang saleh yang tidak memiliki penglihatan, beliau seorang pengumandang adzan. Suatu ketika setelah mengumandangkan adzan ia membacakan shalawat atas Rasulullah, ini setelah adanya larangan dari kaum Wahhabiyyah untuk itu. Orang saleh buta ini kemudian mereka bawa ke hadapan Muhammad ibn Abdil Wahhab, selanjutnya ia memerintahkan untuk dibunuh. Jika saya ungkapkan bagimu seluruh apa yang diperbuat oleh kaum Wahhabiyyah ini maka banyak jilid dan kertas dibutuhkan untuk itu, namun setidaknya sekedar inipun cukup” (al-Futûhat al-Islâmiyyah, j. 2, h. 77).

Di antara bukti kebenaran apa yang telah ditulis oleh Syekh as-Sayyid Ahmad Zaini Dahlan dalam pengkafiran kaum Wahhabiyyah terhadap orang yang membacakan shalawat atas Rasulullah setelah dikumandangkan adzan adalah peristiwa yang terjadi di Damaskus Siria (Syam). Suatu ketika pengumandang adzan masjid Jami’ al-Daqqaq membacakan shalawat atas Rasulullah setelah adzan, sebagaimana kebiasaan di wilayah itu, ia berkata: “as-Shalât Wa as-Salâm ‘Alayka Ya Rasûlallâh…!”, dengan nada yang keras. Tiba-tiba seorang Wahhabi yang sedang berada di pelataran masjid berteriak dengan keras: “Itu perbuatan haram, itu sama saja dengan orang yang mengawini ibunya sendiri…”. Kemudian terjadi pertengkaran antara beberapa orang Wahhabi dengan orang-orang Ahlussunnah, hingga orang Wahhabi tersebut dipukuli. Akhirnya perkara ini dibawa ke mufti Damaskus saat itu, yaitu Syekh Abu al-Yusr Abidin. Kemudian mufti Damaskus ini memanggil pimpinan kaum Wahhabiyyah, yaitu Nashiruddin al-Albani, dan membuat perjanjian dengannya untuk tidak menyebarkan ajaran Wahhabi. Syekh Abu al-Yusr mengancamnya bahwa jika ia terus mengajarkan ajaran Wahhabi maka ia akan dideportasi dari Siria.
Kemudian Syekh as-Sayyid Ahmad Zaini Dahlan menuliskan:
“Muhammad ibn Abdil Wahhab, perintis berbagai gerakan bid’ah ini, sering menyampaikan khutbah jum’at di masjid ad-Dar’iyyah. Dalam seluruh khutbahnya ia selalu mengatakan bahwa siapapun yang bertawassul dengan Rasulullah maka ia telah menjadi kafir. Sementara itu saudaranya sendiri, yaitu Syekh Sulaiman ibn Abdil Wahhab adalah seorang ahli ilmu. Dalam berbagai kesempatan, saudaranya ini selalu mengingkari Muhammad ibn Abdil Wahhab dalam apa yang dia lakukan, ucapakan dan segala apa yang ia perintahkan. Sedikitpun, Syekh Sulaiman ini tidak pernah mengikuti berbagai bid’ah yang diserukan olehnya. Suatu hari Syekh Sulaiman berkata kepadanya: “Wahai Muhammad Berapakah rukun Islam?” Muhammad ibn Abdil Wahhab menjawab: “Lima”. Syekh Sulaiman berkata: “Engkau telah menjadikannya enam, dengan menambahkan bahwa orang yang tidak mau mengikutimu engkau anggap bukan seorang muslim”.

Suatu hari ada seseorang berkata kepada Muhammad ibn Abdil Wahhab: “Berapa banyak orang yang Allah merdekakan (dari neraka) di setiap malam Ramadlan? Ia menjawab: “Setiap malam Ramadlan Allah memerdekakan seratus ribu orang, dan di akhir malam Allah memerdekakan sejumlah orang yang dimerdekakan dalam sebulan penuh”. Tiba-tiba orang tersebut berkata: “Seluruh orang yang mengikutimu jumlah mereka tidak sampai sepersepuluh dari sepersepuluh jumlah yang telah engkau sebutkan, lantas siapakah orang-orang Islam yang dimerdekakan Allah tersebut?! Padahal menurutmu orang-orang Islam itu hanyalah mereka yang mengikutimu”. Muhammad ibn Abdil Wahhab terdiam tidak memiliki jawaban.

Ketika perselisihan antara Muhammad ibn Abdil Wahhab dengan saudaranya; Syekh Sulaiman semakin memanas, saudaranya ini akhirnya khawatir terhadap dirinya sendiri. Karena bisa saja Muhammad ibn Abdil Wahhab sewaktu-waktu menyuruh seseorang untuk membunuhnya. Akhirnya ia hijrah ke Madinah, kemudian menulis karya sebagai bantahan kepada Muhammad ibn Abdil Wahhab yang kemudian ia kirimkan kepadanya. Namun, Muhammad ibn Abdil Wahhab tetap tidak bergeming dalam pendirian sesatnya. Demikian pula banyak para ulama madzhab Hanbali yang telah menulis berbagai risalah bantahan terhadap Muhammad ibn Abdil Wahhab yang mereka kirimkan kepadanya. Namun tetap Muhammad ibn Abdil Wahhab tidak berubah sedikitpun.

Suatu ketika, salah seorang kepala sautu kabilah yang cukup memiliki kekuatan hingga hingga Muhammad ibn Abdil Wahhab tidak dapat menguasainya berkata kepadanya: ”Bagaimana sikapmu jika ada seorang yang engkau kenal sebagai orang yang jujur, amanah, dan memiliki ilmu agama berkata kepadamu bahwa di belakang suatu gunung terdapat banyak orang yang hendak menyerbu dan membunuhmu, lalu engkau kirimkan seribu pasukan berkuda untuk medaki gunung itu dan melihat orang-orang yang hendak membunuhmu tersebut, tapi ternyata mereka tidak mendapati satu orangpun di balik gunung tersebut, apakah engkau akan membenarkan perkataan yang seribu orang tersebut atau satu orang tadi yang engkau anggap jujur?” Muhammad ibn Abdil Wahhab menjawab: ”Saya akan membenarkan yang seribu orang”. Kemudian kepada kabilah tersebut berkata: ”Sesungguhnya para ulama Islam, baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal, dalam karya-karya mereka telah mendustakan ajaran yang engkau bawa, mereka mengungkapkan bahwa ajaran yang engkau bawa adalah sesat, karena itu kami mengikuti para ulama yang banyak tersebut dalam menyesatkan kamu”. Saat itu Muhammad ibn Abdil Wahhab sama sekali tidak berkata-kata.

Terjadi pula peristiwa, suatu saat seseorang berkata kepada Muhammad ibn Abdil Wahhab: ”Ajaran agama yang engkau bawa ini apakah ini bersambung (hingga Rasulullah) atau terputus?”. Muhammad ibn Abdil Wahhab menjawab: ”Seluruh guru-guruku, bahkan guru-guru mereka hingga enam ratus tahun lalu, semua mereka adalah orang-orang musyrik”. Orang tadi kemudian berkata: ”Jika demikian ajaran yang engkau bawa ini terputus! Lantas dari manakah engkau mendapatkannya?” Ia menjawab: ”Apa yang aku serukan ini adalah wahyu ilham seperti Nabi Khadlir”. Kemudian orang tersebut berkata: ”Jika demikian berarti tidak hanya kamu yang dapat wahyu ilham, setiap orang bisa mengaku bahwa dirinya telah mendapatkan wahyu ilham. Sesungguhnya melakukan tawassul itu adalah perkara yang telah disepakati di kalangan Ahlussunnah, bahkan dalam hal ini Ibn Taimiyah memiliki dua pendapat, ia sama sekali tidak mengatakan bahwa orang yang melakukan tawassul telah menjadi kafir” (ad-Durar as-Saniyyah Fî ar-Radd ‘Alâ al-Wahhâbiyyah, h. 42-43).

Yang dimaksud oleh Muhammad ibn Abdil Wahhab bahwa orang-orang terdahulu dalam keadaan syirik hingga enam ratus tahun ke belakang dari masanya ialah hingga tahun masa hidup Ibn Taimiyah, yaitu hingga sekitar abad tujuh dan delapan hijriyah ke belakang. Menurut Muhammad ibn Abdil Wahhab dalam rentang masa antara hidup Ibn Taimiyah, yaitu di abad tujuh dan delapan hijriyah dengan masa hidupnya sendiri yaitu pada abad dua belas hijriyah, semua orang di dalam masa tersebut adalah orang-orang musyrik. Ia memandang dirinya sendiri sebagai orang yang datang untuk memperbaharui tauhid. Dan ia menganggap bahwa hanya Ibn Taimiyah yang selaras dengan jalan dakwah dirinya. Menurutnya, Ibn Taimiyah di masanya adalah satu-satunya orang yang menyeru kepada Islam dan tauhid di mana saat itu Islam dan tauhid tersebut telah punah. Lalu ia mengangap bahwa hingga datang abad dua belas hijriyah, hanya dirinya seorang saja yang melanjutkan dakwah Ibn Taimiyah tersebut. Klaim Muhammad ibn Abdil Wahhab ini sungguh sangat sangat aneh, bagaimana ia dengan sangat berani mengakafirkan mayoritas umat Islam Ahlussunnah yang jumlahnya ratusan juta, sementara ia menganggap bahwa hanya pengikutnya sendiri yang benar-benar dalam Islam?! Padahal jumalah mereka di masanya hanya sekitar seratus ribu orang. Kemudian di Najd sendiri, yang merupakan basis gerakannya saat itu, mayoritas penduduk wilayah tersebut di masa hidup Muhammad ibn Abdil Wahhab tidak mengikuti ajaran dan faham-fahamnya. Hanya saja memang saat itu banyak orang di wilayah tersebut takut terhadap dirinya, oleh karena prilakunya yang tanpa segan membunuh orang-orang yang tidak mau mengikuti ajakannya.
Prilaku jahat Muhammad ibn Abdil Wahhab ini sebagaimana diungkapkan oleh al-Amir ash-Shan’ani, penulis kitab Subul as-Salâm Syarh Bulûgh al-Marâm. Pada awalnya, ash-Shan’ani memuji-muji dakwah Muhammad ibn Abdil Wahhab, namun setelah ia mengetahui hakekat siapa Muhammad ibn Abdil Wahhab, ia kemudian berbalik mengingkarinya. Sebelum mengetahui siapa hakekat Muhammad ibn Abdil Wahhab, ash-Shan’ani memujinya dengan menuliskan beberapa sya’ir, yang pada awal bait sya’ir-sya’ir tersebut ia mengatakan:
سَلاَمٌ عَلَى نَجْدٍ وَمَنْ حَلّ فِي نَجْدِ وَإنْ كَانَ تَسْلِيْمِيْ عَلَى البُعْدِ لاَ يجْدِي

“Salam tercurah atas kota Najd dan atas orang-orang yang berada di dalamnya, walaupun salamku dari kejauhan tidak mencukupi”.

Bait-bait sya’ir tulisan ash-Shan’ani ini disebutkan dalam kumpulan sya’ir-sya’ir (Dîwân) karya ash-Shan’ani sendiri, dan telah diterbitkan. Secara keseluruhan, bait-bait syair tersebut juga dikutip oleh as-Syaukani dalam karyanya berjudul al-Badr at-Thâli’, juga dikutip oleh Shiddiq Hasan Khan dalam karyanya berjudul at-Tâj al-Mukallal, yang oleh karena itu Muhammad ibn Abdil Wahhab mendapatkan tempat di hati orang-orang yang tidak mengetahui hakekatnya. Padahal al-Amir ash-Shan’ani setelah mengetahui bahwa prilaku Muhammad ibn Abdil Wahhab selalu membunuh orang-orang yang tidak sepaham dengannya, merampas harta benda orang lain, mengkafirkan mayoritas umat Islam, maka ia kemudian meralat segala pujian terhadapnya yang telah ia tulis dalam bait-bait syairnya terdahulu, yang lalu kemudian balik mengingkarinya. Ash-Shan’ani kemudian membuat bait-bait sya’ir baru untuk mengingkiari apa yang telah ditulisnya terdahulu, di antaranya sebagai berikut:

رَجَعْتُ عَن القَول الّذيْ قُلتُ فِي النّجدِي فقَدْ صحَّ لِي عنهُ خلاَفُ الّذِي عندِي

ظنَنْتُ بهِ خَيْرًا فَقُـلْتُ عَـسَى عَـسَى نَجِدْ نَاصِحًا يَهْدي العبَادَ وَيستهْدِي

لقَد خَـابَ فيْه الظنُّ لاَ خَاب نصـحُنا ومَـا كلّ ظَـنٍّ للحَقَائِق لِي يهدِي

وقَـدْ جـاءَنا من أرضِـه الشيخ مِرْبَدُ فحَقّق مِنْ أحـوَاله كلّ مَا يبـدِي

وقَـد جَـاءَ مِـن تأليــفِهِ برَسَـائل يُكَـفّر أهْلَ الأرْض فيْهَا عَلَى عَمدِ

ولـفق فِـي تَكْـفِيرِهمْ كل حُــجّةٍ تَرَاهـا كبَيتِ العنْكَبوتِ لدَى النّقدِ

“Aku ralat ucapanku yang telah aku ucapkan tentang seorang yang berasal dari Najd, sekarang aku telah mengetahui kebenaran yang berbeda dengan sebelumnya”.

“Dahulu aku berbaik sangka baginya, dahulu aku berkata: Semoga kita mendapati dirinya sebagi seorang pemberi nasehat dan pemeberi petunjuk bagi orang banyak”

“Ternyata prasangka baik kita tentangnya adalah kehampaan belaka. Namun demikian bukan berarti nasehat kita juga merupakan kesia-siaan, karena sesungguhnya setiap prasangka itu didasarkan kepada ketaidaktahuan akan hakekat-hakekat”.

“Telah datang kepada kami “Syekh” ini dari tanah asalnya. Dan telah menjadi jelas bagi kami dengan sejelas-jelasnya tentang segala hakekat keadaannya dalam apa yang ia tampakkan”.

“Telah datang dalam beberapa tulisan risalah yang telah ia tuliskan, dengan sengaja di dalamnya ia mengkafirkan seluruh orang Islam penduduk bumi, -selain pengikutnya sendiri-”.

“Seluruh dalil yang mereka jadikan landasan dalam mengkafirkan seluruh orang Islam penduduk bumi tersebut jika dibantah maka landasan mereka tersebut laksana sarang laba-laba yang tidak memiliki kekuatan”.

Selain bait-bait sya’ir di atas terdapat lanjutannya yang cukup panjang, dan ash-Shan’ani sendiri telah menuliskan penjelasan (syarh) bagi bait-bait syair tersebut. Itu semua ditulis oleh ash-Shan’ani hanya untuk membuka hekekat Muhammad ibn Abdil Wahhab sekaligus membantah berbagai sikap ekstrim dan ajaran-ajarannya. Kitab karya al-Amir ash-Shan’ani ini beliau namakan dengan judul “Irsyâd Dzawî al-Albâb Ilâ Haqîqat Aqwâl Muhammad Ibn ‘Abd al-Wahhâb”.
Saudara kandung Muhammad ibn Abdil Wahhab yang telah kita sebutkan di atas, yaitu Syekh Sulaiman ibn Abdil Wahhab, juga telah menuliskan karya bantahan kepadanya. Beliau namakan karyanya tersebut dengan judul ash-Shawâ-iq al-Ilâhiyyah Fî al-Radd ‘Alâ al-Wahhâbiyyah, dan buku ini telah dicetak. Kemudian terdapat karya lainnya dari Syekh Suliman, yang juga merupakan bantahan kepada Muhammad ibn Abdil Wahhab dan para pengikutnya, berjudul “Fashl al-Khithâb Fî ar-Radd ‘Alâ Muhammad Ibn ‘Abd al-Wahhâb”.
Kemudian pula salah seorang mufti madzhab Hanbali di Mekah pada masanya, yaitu Syekh Muhammad ibn Abdullah an-Najdi al-Hanbali, wafat tahun 1295 hijriyah, telah menulis sebuah karya berjudul “as-Suhub al-Wâbilah ‘Alâ Dlarâ-ih al-Hanâbilah”. Kitab ini berisi penyebutan biografi ringkas setiap tokoh terkemuka di kalangan madzhab Hanbali. Tidak sedikitpun nama Muhammad ibn Abdil Wahhab disebutkan dalam kitab tersebut sebagai orang yang berada di jajaran tokoh-tokoh madzhab Hanbali tersebut. Sebaliknya, nama Muhammad ibn Abdil Wahhab ditulis dengan sangat buruk, namanya disinggung dalam penyebutan nama ayahnya; yaitu Syekh Abdul Wahhab ibn Sulaiman. Dalam penulisan biografi ayahnya ini Syekh Muhammad ibn Abdullah an-Najdi mengatakan sebagai berikut:
“Dia (Abdul Wahhab ibn Sulaiman) adalah ayah kandung dari Muhammad yang ajaran sesatnya telah menyebar ke berbagai belahan bumi. Antara ayah dan anak ini memiliki perbedaan faham yang sangat jauh, dan Muhammad ini baru menampakan secara terang-terangan terhadap segala faham dan ajaran-ajarannya setelah kematian ayahnya. Aku telah diberitahukan langsung oleh beberapa orang dari sebagian ulama dari beberapa orag yang hidup semasa dengan Syekh Abdul Wahhab, bahwa ia sangat murka kepada anaknya; Muhammad. Karena Muhammad ini tidak mau mempelajari ilmu fiqih (dan ilmu-ilmu agama lainnya) seperti orang-orang pendahulunya. Ayahnya ini juga mempunyai firasat bahwa pada diri Muhammad akan terjadi kesesatan yang sanat besar. Kepada banyak orang Syekh Abdul Wahhab selalu mengingatkan: ”Kalian akan melihat dari Muhammad ini suatu kejahatan...”. Dan ternyata memang Allah telah mentaqdirkan apa yang telah menjadi firasat Syekh Abdul Wahhab ini.

Demikian pula dengan saudara kandungnya, yaitu Syekh Sulaiman ibn Abdil Wahhab, ia sangat mengingkari sepak terjang Muhammad. Ia banyak membantah saudaranya tersebut dengan berbagai dalil dari ayat-ayat al-Qur’an dan Hadits-Hadits, karena Muhammad tidak mau menerima apapun kecuali hanya al-Qur’an dan Hadits saja. Muhammad sama sekali tidak menghiraukan apapun yang dinyatakan oleh para ulama, baik ulama terdahulu atau yang semasa dengannya. Yang ia terima hanya perkataan Ibn Taimiyah dan muridnya; Ibn al-Qayyim al-Jawziyyah. Apapun yang dinyatakan oleh dua orang ini, ia pandang laksana teks yang tidak dapat diganggu gugat. Kepada banyak orang ia selalu mempropagandakan pendapat-pendapat Ibn Taimiyah dan Ibn al-Qayyim, sekalipun terkadang dengan pemahaman yang sama sekali tidak dimaksud oleh keduanya. Syekh Sulaiman menamakan karya bantahan kepadanya dengan judul Fashl al-Khithâb Fî ar-Radd ‘Alâ Muhammad Ibn ’Abd al-Wahhâb.

Syekh Sulaiman ini telah diselamatkan oleh Allah dari segala kejahatan dan marabahaya yang ditimbulkan oleh Muhammad, yang padahal hal tersebut sangat menghkawatirkan siapapun. Karena Muhammad ini, apa bila ia ditentang oleh seseorang dan ia tidak kuasa untuk membunuh orang tersebut dengan tangannya sendiri maka ia akan mengirimkan orangnya untuk membunuh orang itu ditempat tidurnya, atau membunuhnya dengan cara membokongnya di tempat-tempat keramaian di malam hari, seperti di pasar. Ini karena Muhammad memandang bahwa siapapun yang menentangnya maka orang tersebut telah menjadi kafir dan halal darahnya.

Disebutkan bahwa di suatu wilayah terdapat seorang gila yang memiliki kebiasaan membunuh siapapun yang ada di hadapannya. Kemudian Muhammad memerintahkan orang-orangnya untuk memasukkan orang gila tersebut dengan pedang ditangannya ke masjid di saat Syekh Sulaiman sedang sendiri di sana. Ketika orang gila itu dimasukan, Syekh Sulaiman hanya melihat kepadanya, dan tiba-tiba orang gila tersebut sangat ketakutan darinya. Kemudian orang gila tersebut langsung melemparkankan pedangnya, sambil berkata: ”Wahai Sulaiman janganlah engkau takut, sesungguhnya engkau adalah termasuk orang-orang yang aman”. Orang gila itu mengulang-ulang kata-katanya tersebut. Tidak diragukan lagi bahwa hal ini jelas merupakan karamah” (as-Suhub al-Wâbilah Ala Dlara-ih al-Hanbilah, h. 275).

Dalam tulisan Syekh Muhammad ibn Abdullah an-Najdi di atas disebutkan bahwa Syekh Abdul Wahhab sangat murka sekali kepada anaknya; Muhammad, karena tidak mau mempelajari ilmu fiqih, ini artinya bahwa dia sama sekali bukan seorang ahli fiqih dan bukan seorang ahli Hadits. Adapun yang membuat dia sangat terkenal tidak lain adalah karena ajarannya yang sangat ekstrim dan nyeleneh. Sementara para pengikutnya yang sangat mencintainya, hingga mereka menggelarinya dengan Syekh al-Islâm atau Mujaddid, adalah klaim laksana panggang yang sangat jauh dari api. Para pengikutnya yang lalai dan terlena tersebut hendaklah mengetahui dan menyadari bahwa tidak ada seorangpun dari sejarawan terkemuka di abad dua belas hijriyah yang mengungkap biografi Muhammad ibn Abdil Wahhab dengan menyebutkan bahwa dia adalah seorang ahli fiqih atau seorang ahli Hadits.
Syekh Ibn Abidin al-Hanafi dalam karyanya; Hâsyiyah Radd al-Muhtâr ‘Alâ ad-Durr al-Mukhtâr menuslikan sebagai berikut:

“Penjelasan; Prihal para pengikut Muhammad ibn Abdil Wahhab sebagai kaum Khawarij di zaman kita ini. Pernyataan pengarang kitab (yang saya jelaskan ini) tentang kaum Khawarij: “Wa Yukaffirûn Ash-hâba Nabiyyina…”, bahwa mereka adalah kaum yang mengkafirkan para sahabat Rasulullah, artinya kaum Khawarij tersebut bukan hanya mengkafirkan para sahabat saja, tetapi kaum Khawarij adalah siapapun mereka yang keluar dari pasukan Ali ibn Abi Thalib dan memberontak kepadanya. Kemudian dalam keyakinan kaum Khawajij tersebut bahwa yang memerangi Ali ibn Abi Thalib, yaitu Mu’awiyah dan pengikutnya, adalah juga orang-orang kafir. Kelompok Khawarij ini seperti yang terjadi di zaman kita sekarang, yaitu para pengikut Muhammad ibn Abdil Wahhab yang telah memerangi dan menguasai al-Haramain; Mekkah dan Madinah. Mereka memakai kedok madzhab Hanbali. Mereka meyakini bahwa hanya diri mereka yang beragama Islam, sementara siapapun yang menyalahi mereka adalah orang-orang musyrik. Lalu untuk menegakan keyakinan ini mereka mengahalalkan membunuh orang-orang Ahlussunnah. Oleh karenanya banyak di antara ulama Ahlussunnah yang telah mereka bunuh. Hingga kemudian Allah menghancurkan kekuatan mereka dan membumihanguskan tempat tinggal mereka hingga mereka dikuasai oleh balatentara orang-orang Islam, yaitu pada tahun seribu dua ratus tiga puluh tiga hijriyah (th 1233 H)” (Radd al-Muhtâr ‘Alâ ad-Durr al-Mukhtâr, j. 4, h. 262; Kitab tentang kaum pemberontak.).

Salah seorang ahli tafsir terkemuka; Syekh Ahmad ash-Shawi al-Maliki dalam ta’lîq-nya terhadap Tafsîr al-Jalâlain menuliskan sebagai berikut:

“Menurut satu pendapat bahwa ayat ini turun tentang kaum Khawarij, karena mereka adakah kaum yang banyak merusak takwil ayat-ayat al-Qur’an dan Hadits-Hadits Rasulullah. Mereka menghalalkan darah orang-orang Islam dan harta-harta mereka. Dan kelompok semacam itu pada masa sekarang ini telah ada. Mereka itu adalah kelompok yang berada di negeri Hijaz; bernama kelompok Wahhabiyyah. Mereka mengira bahwa diri mereka adalah orang-orang yang benar dan terkemuka, padahal mereka adalah para pendusta. Mereka telah dikuasai oleh setan hingga mereka lalai dari mengenal Allah. Mereka adalah golongan setan, dan sesungguhnya golongan setan adalah orang-orang yang merugi. Kita berdo’a kepada Allah, semoga Allah menghancurkan mereka” (Mir-ât an-Najdiyyah, h. 86).


11 comments:

Anonymous said...

syukron atas artikelny, mohon definisikan wahabi di indonesia pada saat ini??

Anonymous said...

saya sdh sekitar 5th mengikuti beberapa kajian salaf yg dituding wahabi oleh sebagian orang, tapi anehnya sy tidak mendapati dari kajian2 yg saya ikuti spt yg diuraikan dalam artikel ini, aneh ya? justru yg saya dapati kita tidak boleh gegabah dalam menghukumi kafir pada org lain, karena: barangsiapa yg mengatakan pd saudaranya 'wahai kafir' dan ternyata saudaranya tsb tidak kafir, maka kekafiran tsb akan kembali kepadanya (sang pengucap)".

juga sering membahas kitab karya syaikh muhammad bin abdul wahhab, spt Kitab Tauhid, 3 landasan utama, kasyfu subuhat, qaidah arbaah, dll, tidak satupun mengandung sebagaimana yg diuraikan penulis artikel ini. heran? bahkan semua yg disampaikan dlm kitab tsb selalu berlandaskan dalil baik dari Quran maupun Hadits.

saya sering membaca tudingan2 thd wahabi, tapi selama mengikuti pengajian ustad2 yg dituduh wahabi, tidak terbukti satupun tuduhan2 mereka ini spt penulis artikel ini... aneh....

selama kajian, sering membahas masalah aqidah, tauhid, akhlak, sunnah, dll. semua yg disampaikan selalu ada dalilnya tentunya yang shahih menurut para ulama...

ketika pertama kali mengikuti kajian salaf, banyak hal yg tidak sesuai dgn pemikiran saya, tapi setelah mendalaminya ternyata yg salah bukan mereka, tetapi saya yg kurang memiliki ilmu...

"maka, bertanyalah kepada orang2 yg berilmu kalau kalian tidak mengetahui...."

abdullah abu faiq Abu said...

LUCU BLOG INI SAMA SEKALI TIDAK TAU HADIS DAN ISI KANDUNGANNYA,

abdullah abu faiq Abu said...

KALO ADAT DAN TRADISI MUSLIM INDO.BILA IMTIHANA ATAU HALAL BIHALAL YANG DI HADIRI ULAMA NU,TIADA LAIN KECUALI KUMPUL BARENG LAKI PREMPUAN SAMBIL MEROKOK DAN VOYA VOYA,CONTOH DI PESANTREN BUNTET CIREBON.MEREKA DAN KIYAINYA SAMA SAMA MABOK ROKOK KETIKA HAUL ATAU HALALBIHALAL,KEMAKSIATAN MODEL JAHILIYAH INI SUDAH BERAKAR DI KALANGAN NAHDHIYIN/KAUM NU,DAN ULAMA MEREKA SUDAH MENGHALALKAN BAHKAN TERJADI MEROKOK DI MASJID SETELAH ACARA PERNIKAHAN DI DALAM MASJID,INNALILLAHI WAINNA LILLAHI ROOJI,UUN,

Anonymous said...

Sory aq hanya cukup mengocopy karena bagiku utkmenjawab wahabi ini hanya cukup copy supaya tdk membuang buang energy
klo d sampaikan kebenaran d katakan mefitnah n benci itulah wahabi ooooh tambah lagi mengadu domba katanya wahaby(senjata mutakirnya)
padahal dah d dukung fakta n bukti
jadi g buang2 energi deh utk menjawab pr wahabi
kamu memang wahabi yg asli bukan salafy
tapi kamu malu menerima nama wahabi maunya pakai nama salafy
biar orang pada g ngerti trus terjebak dg nama salafy klo kamu yg bener n aslinya wahabi
salafy untuk menutupi wahabi ngapusi ciri khas wahabi, bukan ciri2 salafy yg asli pewaris nabi
tp kamu malu d undang nama wahabi, katanya kembali ke quran n hadis yg murni setelah d ikuti
ternyata itupun ngapusi alias gataki
*nyatanya klo d tunjunjuki hadis n quran nya malah memaki sekarang sampai d pondok2 yg ada d plosok2 pun banyak yg ngerti klo itu hanya promosi
trus pd lari dan kembali ke pemahaman semula yg d wariskan ulama pewaris nabi
bukan pewaris ulama wahabi abdul wahab ibnu taimiyyah ,binbaz dan yg lain2 lagi
oh yaaa al albani aku meh lali ngko ndak meri.
ada lagi yang ngaku mantan kyai tapi ngaji d pondok mana n gurunya sapa nggak ngerti wong kyai kok difinisi bidah n syrik nggak mudeng terus d timggal santri2 nya ngaku mantan kyai. kalau figur kyai asli nggak cirikhasnya gak gitu , paling itu foto copy ( ato mungkin yg biasa jual obat / ramalan di pinggir jalan.dah g laku lagi ) malah ini hampir menyerupai
JAWABAN HARUS / WAJIB PAKAI DALIL QUR’AN N HADIS SHOHIH G BOLEH NGARANG SENDIRI AKU HANYA MENIRU SEPERTI KATA USTAD2 WAHABI
PAK YAI MO NANYA NIH YI, NIKAH HUKUMNYA APA YIi ? (buat mantan kyai NU NIH )
ROSULULLAH NIKAH NDAK YI ? ( juga buat mantan kiay NU )
ROSULULLAH PUNYA BUKU NIKAH NDAK YI ? ( MASIH UNTUK MANTAN KYAI NU MALAH INI INTINYA )
LHA SEKARANG PAK YAI NIKAH NDAK ? YG FAIR YA YI ( MANTAN KYAI NU LAGI )
PUNYA BUKU NIKAH NDAK YI ? JAWAB YA YI EEEEEEHHHHHHH BUKU NIKAH ITU KAN BERARTI BIDAH YA YI KAN ROSULULLAH NGGAK PERNAH PAKAI BUKU NIKAH ( tdk pernah d contohkan) ..................................................... HAHAHAHAHAAHAAAHAHAHAHA
itukan bukan ibadah.....................Kata pak mantan kiay n dikuti para santri pengikut wahabi .kaya kooor yg udah d atur rapi. NGAJI DULU SAMA MANTAN KYAI.... AH
Apalagi setelah d bongkar abusalafy memalsu buku2 yg asli
wahabi g bisa jawab artikel abu salafy apalagi mo ngedel jadi bisanya hanya bingungi n me-maki2 terus membuat artikel tandingan ngarang sendiri alhamdulillah para pembaca udah banyak yg ngerti n memahami sifat2 wahabi
sekarang para santri n jamaah di masjid2 udah semakin mantap ke pemahaman yg asli nambah mantap dan ora ragu2 lagi
wahabi tetep aja wahabi akan selalu mencari orang2 yg tidak ngerti terus d pengaruhi...................
klo koment ini pasti d spam karena aku sudah mengerti tdk sesuai doktrin wahabi
tapi akan saya munculkan di bloknya abu salafy yg jujur n terbuka ini
karena itu sdh menjadi kebiasaan n ciri khas murid n ustad n generasi penerus wahabi
ditambah menghujat ,mefitnah,memaki bidah,syirik ,n takfiri itulah yg di NAMAI
wa wa wa wa wa...ha ha ha ha ha....bi bi bi bi bi bi .... oh ya sekarang tambah lagi awas Provokasi kata Ustad & santri wahabi n ada yg takut dg dakwah wahabi (memangnya wahabi tengkorak??????
PENIPU ( berlagak) INTELEKTUAL MASA KINI
Wahabi sekalipun udah d kasih koment kebenaran hanya milik ALLAH TA’ALA ya tetep aja wahabi
komplain
Allah ada tanpa tempat dan arah
laisa kamitslihi syaiun...

Anonymous said...

Sory aq hanya cukup mengocopy karena bagiku utkmenjawab wahabi ini hanya cukup copy supaya tdk membuang buang energy
klo d sampaikan kebenaran d katakan mefitnah n benci itulah wahabi ooooh tambah lagi mengadu domba katanya wahaby(senjata mutakirnya)
padahal dah d dukung fakta n bukti
jadi g buang2 energi deh utk menjawab pr wahabi
kamu memang wahabi yg asli bukan salafy
tapi kamu malu menerima nama wahabi maunya pakai nama salafy
biar orang pada g ngerti trus terjebak dg nama salafy klo kamu yg bener n aslinya wahabi
salafy untuk menutupi wahabi ngapusi ciri khas wahabi, bukan ciri2 salafy yg asli pewaris nabi
tp kamu malu d undang nama wahabi, katanya kembali ke quran n hadis yg murni setelah d ikuti
ternyata itupun ngapusi alias gataki
*nyatanya klo d tunjunjuki hadis n quran nya malah memaki sekarang sampai d pondok2 yg ada d plosok2 pun banyak yg ngerti klo itu hanya promosi
trus pd lari dan kembali ke pemahaman semula yg d wariskan ulama pewaris nabi
bukan pewaris ulama wahabi abdul wahab ibnu taimiyyah ,binbaz dan yg lain2 lagi
oh yaaa al albani aku meh lali ngko ndak meri.
ada lagi yang ngaku mantan kyai tapi ngaji d pondok mana n gurunya sapa nggak ngerti wong kyai kok difinisi bidah n syrik nggak mudeng terus d timggal santri2 nya ngaku mantan kyai. kalau figur kyai asli nggak cirikhasnya gak gitu , paling itu foto copy ( ato mungkin yg biasa jual obat / ramalan di pinggir jalan.dah g laku lagi ) malah ini hampir menyerupai
JAWABAN HARUS / WAJIB PAKAI DALIL QUR’AN N HADIS SHOHIH G BOLEH NGARANG SENDIRI AKU HANYA MENIRU SEPERTI KATA USTAD2 WAHABI
PAK YAI MO NANYA NIH YI, NIKAH HUKUMNYA APA YIi ? (buat mantan kyai NU NIH )
ROSULULLAH NIKAH NDAK YI ? ( juga buat mantan kiay NU )
ROSULULLAH PUNYA BUKU NIKAH NDAK YI ? ( MASIH UNTUK MANTAN KYAI NU MALAH INI INTINYA )
LHA SEKARANG PAK YAI NIKAH NDAK ? YG FAIR YA YI ( MANTAN KYAI NU LAGI )
PUNYA BUKU NIKAH NDAK YI ? JAWAB YA YI EEEEEEHHHHHHH BUKU NIKAH ITU KAN BERARTI BIDAH YA YI KAN ROSULULLAH NGGAK PERNAH PAKAI BUKU NIKAH ( tdk pernah d contohkan) ..................................................... HAHAHAHAHAAHAAAHAHAHAHA
itukan bukan ibadah.....................Kata pak mantan kiay n dikuti para santri pengikut wahabi .kaya kooor yg udah d atur rapi. NGAJI DULU SAMA MANTAN KYAI.... AH
Apalagi setelah d bongkar abusalafy memalsu buku2 yg asli
wahabi g bisa jawab artikel abu salafy apalagi mo ngedel jadi bisanya hanya bingungi n me-maki2 terus membuat artikel tandingan ngarang sendiri alhamdulillah para pembaca udah banyak yg ngerti n memahami sifat2 wahabi
sekarang para santri n jamaah di masjid2 udah semakin mantap ke pemahaman yg asli nambah mantap dan ora ragu2 lagi
wahabi tetep aja wahabi akan selalu mencari orang2 yg tidak ngerti terus d pengaruhi...................
klo koment ini pasti d spam karena aku sudah mengerti tdk sesuai doktrin wahabi
tapi akan saya munculkan di bloknya abu salafy yg jujur n terbuka ini
karena itu sdh menjadi kebiasaan n ciri khas murid n ustad n generasi penerus wahabi
ditambah menghujat ,mefitnah,memaki bidah,syirik ,n takfiri itulah yg di NAMAI
wa wa wa wa wa...ha ha ha ha ha....bi bi bi bi bi bi .... oh ya sekarang tambah lagi awas Provokasi kata Ustad & santri wahabi n ada yg takut dg dakwah wahabi (memangnya wahabi tengkorak??????
PENIPU ( berlagak) INTELEKTUAL MASA KINI
Wahabi sekalipun udah d kasih koment kebenaran hanya milik ALLAH TA’ALA ya tetep aja wahabi
komplain
Allah ada tanpa tempat dan arah
laisa kamitslihi syaiun...

Anonymous said...

Sory aq hanya cukup mengocopy karena bagiku utkmenjawab wahabi ini hanya cukup copy supaya tdk membuang buang energy
klo d sampaikan kebenaran d katakan mefitnah n benci itulah wahabi ooooh tambah lagi mengadu domba katanya wahaby(senjata mutakirnya)
padahal dah d dukung fakta n bukti
jadi g buang2 energi deh utk menjawab pr wahabi
kamu memang wahabi yg asli bukan salafy
tapi kamu malu menerima nama wahabi maunya pakai nama salafy
biar orang pada g ngerti trus terjebak dg nama salafy klo kamu yg bener n aslinya wahabi
salafy untuk menutupi wahabi ngapusi ciri khas wahabi, bukan ciri2 salafy yg asli pewaris nabi
tp kamu malu d undang nama wahabi, katanya kembali ke quran n hadis yg murni setelah d ikuti
ternyata itupun ngapusi alias gataki
*nyatanya klo d tunjunjuki hadis n quran nya malah memaki sekarang sampai d pondok2 yg ada d plosok2 pun banyak yg ngerti klo itu hanya promosi
trus pd lari dan kembali ke pemahaman semula yg d wariskan ulama pewaris nabi
bukan pewaris ulama wahabi abdul wahab ibnu taimiyyah ,binbaz dan yg lain2 lagi
oh yaaa al albani aku meh lali ngko ndak meri.
ada lagi yang ngaku mantan kyai tapi ngaji d pondok mana n gurunya sapa nggak ngerti wong kyai kok difinisi bidah n syrik nggak mudeng terus d timggal santri2 nya ngaku mantan kyai. kalau figur kyai asli nggak cirikhasnya gak gitu , paling itu foto copy ( ato mungkin yg biasa jual obat / ramalan di pinggir jalan.dah g laku lagi ) malah ini hampir menyerupai
JAWABAN HARUS / WAJIB PAKAI DALIL QUR’AN N HADIS SHOHIH G BOLEH NGARANG SENDIRI AKU HANYA MENIRU SEPERTI KATA USTAD2 WAHABI
PAK YAI MO NANYA NIH YI, NIKAH HUKUMNYA APA YIi ? (buat mantan kyai NU NIH )
ROSULULLAH NIKAH NDAK YI ? ( juga buat mantan kiay NU )
ROSULULLAH PUNYA BUKU NIKAH NDAK YI ? ( MASIH UNTUK MANTAN KYAI NU MALAH INI INTINYA )
LHA SEKARANG PAK YAI NIKAH NDAK ? YG FAIR YA YI ( MANTAN KYAI NU LAGI )
PUNYA BUKU NIKAH NDAK YI ? JAWAB YA YI EEEEEEHHHHHHH BUKU NIKAH ITU KAN BERARTI BIDAH YA YI KAN ROSULULLAH NGGAK PERNAH PAKAI BUKU NIKAH ( tdk pernah d contohkan) ..................................................... HAHAHAHAHAAHAAAHAHAHAHA
itukan bukan ibadah.....................Kata pak mantan kiay n dikuti para santri pengikut wahabi .kaya kooor yg udah d atur rapi. NGAJI DULU SAMA MANTAN KYAI.... AH
Apalagi setelah d bongkar abusalafy memalsu buku2 yg asli
wahabi g bisa jawab artikel abu salafy apalagi mo ngedel jadi bisanya hanya bingungi n me-maki2 terus membuat artikel tandingan ngarang sendiri alhamdulillah para pembaca udah banyak yg ngerti n memahami sifat2 wahabi
sekarang para santri n jamaah di masjid2 udah semakin mantap ke pemahaman yg asli nambah mantap dan ora ragu2 lagi
wahabi tetep aja wahabi akan selalu mencari orang2 yg tidak ngerti terus d pengaruhi...................
klo koment ini pasti d spam karena aku sudah mengerti tdk sesuai doktrin wahabi
tapi akan saya munculkan di bloknya abu salafy yg jujur n terbuka ini
karena itu sdh menjadi kebiasaan n ciri khas murid n ustad n generasi penerus wahabi
ditambah menghujat ,mefitnah,memaki bidah,syirik ,n takfiri itulah yg di NAMAI
wa wa wa wa wa...ha ha ha ha ha....bi bi bi bi bi bi .... oh ya sekarang tambah lagi awas Provokasi kata Ustad & santri wahabi n ada yg takut dg dakwah wahabi (memangnya wahabi tengkorak??????
PENIPU ( berlagak) INTELEKTUAL MASA KINI
Wahabi sekalipun udah d kasih koment kebenaran hanya milik ALLAH TA’ALA ya tetep aja wahabi
komplain
Allah ada tanpa tempat dan arah
laisa kamitslihi syaiun...

Anonymous said...

http://salafytobat.wordpress.com/2008/07/16/ibnu-taimiyah-membungkam-wahhabi/
Aksi Manipulasi Mereka Terhadap Ilmu Pengetahuan
Ibnu Taymiyah Vs Wahhaby
Parahnya, kitab karya Ibnu Taimiyah yang dianggap sakral juga tak luput dari aksi mereka. Pada penerbitan terakhir kumpulan fatwa Syekh Ibnu Taimiyah, mereka membuang juz 10 yang berisi tentang ilmu suluk dan tasawwuf. (Alhamdulilah, penulis memiliki cetakan lama) Bukankah ini semua perbuatan dzalim?
Wah seperti ahlul kitab ya?

masak kaya gini kita mo percaya
maslah agama lhoooooo

Anonymous said...

Wahai Ichwan...sebelum menulis artikel ini, ikut kajian dulu di Manhaj Salaf...

pencariALHAQkebenaran said...

Bismillah
Memprihatinkan kekacauan carut-marut fenomena akhir jaman ini!
Itu karena kebodohan kaum itu sendiri. Dan itu sudah Sunnatulloh!

Semua Orang mengklaim dia dan amalannya berada di thoriqoh/golongan/partai/hizb yang benar.
Ketahuilah kebenaran Islam AlHaq hanya satu.
Kaum Muslimin akan terpecah 73 golongan/model, kulluha fii naar illa wahidah
Semua beramal di atas jalan neraka kecuali satu,yaitu yg difahami,
diamalkan/didakwahkan oleh Rosululloh Sholalloh 'alaihi wassalam
dan para sahabatnya Rodhiallohu 'anhum aj'main (generasi pertama umat ini)

Seorang yg masuk Islam tidak cukup hanya beramal saja,
apalagi hanya mengandalkan/sudah ditebus dg amalan
orang lain (kyai/habib/syekh/gurunya)
Jangan pernah meyakini amalan Islam yg tidak ada contohnya
dari generasi pertama umat ini

Hukum asal ibadah itu HAROM kecuali yg ada DALIL/hujah dasar hukumnya
Orang yg mengaku beriman harus berbekal ilmu sebelum berkata/beramal/ibadah
Seorang Muslim wajib jujur,cerdas,pintar bukan mau dibodohi & ikut-ikutan saja
Menuntut ilmu Islam wajib bagi tiap personal Muslimin
Tholabul 'ilmi faridhotun 'ala kulli muslim

Di akhir jaman ada fenomena Ulama Gadungan/Palsu dan ajaran islam palsu
Jangan mudah tertipu dg sosok figur ulama perusak, ulama Su'
Hanyalah dengan ILMU yg shohih orang bisa BEDAKAN iniulama/munafiq atau bukan!
Jangan pernah fanatik membebek kepada seorangpun didunia ini,
kecualai kpd Muhammad bin Abdullah saja,Sholalloh 'alaihi wassalam

Alloh telah menjamin Dien islam tidak akan pernah berubah
sampai menjelang kiamat Qubro yg mengakhiri kehidupan dunia
Islam dijaga oleh Alloh dgn selalu ada di muka bumi ini
orang yg membawa Islam al Haq. Al Haq dihafal/dibawa
dan diamalkan/didakwahkan secara estafet,bersanad
turun temurun dari jaman ke jaman

Begitu mudah orang Islam gugur/batal keislamannya,
sementara di KTP masih tertulis Islam, ironis!
Jangan adem ayem menghayal masih berada di jalan menuju jannah surga,
namun tanpa disadari sudah berjalan di atas jalan menuju neraka

Solusinya ngaji terus ilmu Islam alHaq, dan ikhlas mencari ridho Alloh 'Ta'ala
Ambil ilmu Islam yg sudah diridhoi Alloh,yaitu yg difahami,dijalankan oleh
Rosululloh Sholalloh 'alaihi wassalam dan para sahabatnya Rodhialloh 'anhum aj'main

salwah syahnas said...

Tiada seorang pun dari golongan wahabi yang Allah Ta’ala angkat darjatnya menjadi Aulia Allah(wali-Allah) melainkan dari kalangan ahli Sunnah Aljamaah yang tulen,ini di sebabkan tiada Rahmat yang di turunkan oleh Allah untuk kaum wahabi lantaran mereka sangat sangat memperkecilkan kanjeng Nabi Saw dan sering mengangap bahawa kanjeng Nabi Saw itu manusia biasa yang tidak mempunyai kelebihan dan istimewa disisi Allah.Sekian